Nama:
Firman Tri Prakoso
Kelas :
3KA38
Npm :
13113517
I.Pengertian penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari
pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan
pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi
yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap
benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang
dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil
kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan
konklusi disebut konsekuensi.
Metode
dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam
menalar yaitu induktif dan deduktif.
Metode
induktif
Paragraf Induktif adalah
paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan-permasalahan khusus
(mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan kesimpulan
yang berupa pernyataan umum. Paragraf Induktis sendiri dikembangkan menjadi
beberapa jenis. Pengembangan tersebut yakni paragraf generalisasi, paragraf
analogi, paragraf sebab akibat bisa juga akibat sebab.
Contoh paragraf Induktif :
Pada saat ini remaja lebih
menyukai tari-tarian dari barat seperti breakdance, Shuffle, salsa (dan
Kripton), modern dance dan lain sebagainya. Begitupula dengan jenis musik
umumnya mereka menyukai rock, blues, jazz, maupun reff tarian dan kesenian
tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren barat. Penerimaan
terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan pelestarian budaya
sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan menggeser kesenian dan budaya
tradisional.
Contoh generalisasi:
·
Jika ada udara, manusia akan hidup.
·
Jika ada udara, hewan akan hidup.
·
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
·
Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
Metode
deduktif
Metode berpikir deduktif adalah
metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk
seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum)
dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
1.
Pengertian proposisi
Proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat
pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat
dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan
mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah.
Dalam ilmu logika,
proposisi mempunyai tiga unsur yakni :
·
Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri
dari orang, benda, tempat, atau perkara.
·
Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam
subjek.
·
Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan
predikat.
Contohnya kalimat Semua manusia adalah fana. Kata semua
dalam kalimat tersebut dinamakan dengan pembilang. Kemudian kata manusia
berkedudukan sebagai subyek, sedang adalah merupakan kopula. Adapun predikat di
sini diwakili oleh kata fana.
Banyak pemikir modern berpikir bahwa "pernyataan"
dan "proposisi" adalah sinonim, atau paling tidak seharusnya sama.
III. Definisi inferensi
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal
kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference
dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia menarik
kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif,
kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk
meniru inferensi manusia.inferensi statistik memungkinkan untuk kesimpulan dari
data kuantitatif.
Contoh inferensi :
Inkoherensi tidak ada definisi inferensi deduktif telah
ditawarkan. definisi yang ditawarkan adalah untuk inferensi INDUKTIF.
Filsuf Yunani didefinisikan sejumlah silogisme ,bagian tiga
kesimpulan yang benar,yang dapat digunakan sebagai blok bangunan untuk
penalaran yang lebih kompleks. Kita mulai dengan yang paling terkenal dari
mereka semua:
• Semua manusia fana
• Socrates adalah seorang pria
Oleh karena itu, Sokrates adalah fana. Pembaca dapat
memeriksa bahwa tempat dan kesimpulan yang benar, tetapi Logika berkaitan
dengan inferensi: apakah kebenaran kesimpulan mengikuti dari yang tempat?
Validitas kesimpulan tergantung pada bentuk kesimpulan.
Artinya, kata “berlaku” tidak mengacu pada kebenaran atau kesimpulan tempat,
melainkan dengan bentuk kesimpulan. Inferensi dapat berlaku bahkan jika bagian
yang palsu, dan dapat tidak valid bahkan jika bagian-bagian yang benar. Tapi
bentuk yang valid dengan premis-premis yang benar akan selalu memiliki
kesimpulan yang benar.
Sebagai contoh, perhatikan bentuk berikut symbological trek:
• Semua apel biru.
• Pisang adalah apel.
Oleh karena itu, pisang berwarna biru.
IV. Definisi
Implikasi
Implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada
karena sudah dirangkum dalam fakta atau evidensi itu sendiri. Banyak dari
kesimpulan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis harus disusun dengan
memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang tercakup dalam evidensi
(=implikasi), dan kesimpulan yang masuk akal berdasarkan implikasi
(=inferensi).
Implikasi dapat
merujuk kepada:
• Dalam manajemen:
o Implikasi procedural meliputi tata analisis, pilihan
representasi, peracanaan kerja dan formuasi kebijakan
o implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan
ke depan dan perumusan tindakan
• Dalam logika:
o Implikasi logis dalam logika matematika
o Kondisional material dalam falsafah logika
Jadi definis implikasi dalam bahasa indonesia adalah
keterlibtan atau keadaan terlibat.
Contoh : implikasi manusi sebagai objek percobaan atau
penelitian semakin terasa manfaat dan kepentinganya.
V. Wujud Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua
informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk
membuktikan suatu kebenaran.
Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan
argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pembaca sudah
mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang
diturunkan daripadanya.
Evidensi itu berbentuk data atau informasi, yaitu bahan
keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu, biasanya berupa
statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan atau diberikan oleh
orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan dalam pengertian data (apa
yang diberikan) dan informasi (bahan keterangan).
Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana
kenyataan hadir” atau perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan
“Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo”, apa komentar kita ? Tentu
saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan
mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai
“kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan,
bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi
tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ?
Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada.
Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana
saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak
setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan
saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data
atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan
keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
VI. Cara menguji Data, Fakta, dan Autoritas
a) Cara menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus
merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara
tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai
evidensi.
Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk
pengujian tersebut :
·
Observasi
·
Kesaksian
Autoritas
b) Cara menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang diperoleh
adalah fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut ada dua
tingkat. Yang pertama untuk meyakinkan bahwa semua bahan data tersebut adalah
fakta. Yang kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga
benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
Cara menguji fakta ada dua yaitu :
Konsistensi
Koheresi
c) Cara menguji
Autoritas
Menghidari semua desas-desus atau kesaksian, baik akan
membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang
sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental. Ada
beberapa cara sebagai berikut :
·
Tidak
mengandung prasangka
pendapat disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh para ahli atau didasarkan pada hasil eksperimen yang dilakukannya.
·
Pengalaman dan pendidikan autoritas
Dasar kedua menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas.
Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal. Pendidikan yang diperoleh harus
dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan sebagai seorang ahli. Pengalaman yang
diperoleh autoritas, penelitian yang dilakukan, presentasi hasilpenelitian dan
pendapatnya akan memperkuat kedudukannya.
·
Kemashuran dan prestise
Ketiga yang harus diperhatikan adalah meneliti apakah pernyataan
atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas hanya sekedar bersembunyi
dibalik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain.
·
Koherensi dengan kemajuan
Hal keempat adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas
sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman atau koheren dengan pendapat
sikap terakhir dalam bidang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar